Selasa, 17 Maret 2015

Hanya Tuhan Yang Setia Merangkulku

Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menciptakan manusia yang sangat sempurna dalam mencintaiku. Menghadirkan sosok ayah yang amat luar biasa. Ketika ayah-ayah yang lain menggunakan kedua tangannya untuk bekerja, ayahku yang sedari awal memang sengaja Kau ciptakan sebagai manusia hebat melakukan pekerjaan ganda sekaligus. Di saat satu tangannya ia gunakan untuk memungut koin dari perasan keringatnya, tangannya yang lain ia gunakan untuk merangkulku.
Aku bahkan tak mengenal sosok lain, ketika teman-teman mainku memiliki seorang wanita yang disebutnya ‘Ibu’, aku cukup memiliki satu orang saja. Orang yang paling setia menemaniku mengarungi sajadah panjang kehidupanku ini.

Aku tidak tahu, mengapa Tuhan memilihkan jalan yang berbeda. Mengapa Tuhan megambil kesempatanku untuk mengerti yang dinamakan kasih putih itu?.
Sekalipun aku merasa ini semua tak adil. Namun, tetap saja suara hatiku berbisik selalu ada hikmah yang dibungkus-Nya dalam sembilu.
Yang kusesalkan bukan tentang mengapa Kau mengambilnya lebih dulu, melainkan mengapa Kau tak biarkan aku mengingat seperti apa ia, seperti apa pelukannya, seperti apa tatkala tangan lembutnya itu membelai kulitku. Aku ingin tahu itu, Tuhan…

Ketika rasa keingin tahuan ini menganiaya, aku cukup sanggup mengacak-acak tiap arsip yang tersimpan apik di memoriku. Hanya sekadar mencari selembar kenangan tentang ‘Ibu’. Namun, apa yang bisa kudapat? Tak ada, hanya kosong yang kugenggam. Aku tak bisa menangkap berkas itu secara nyata. Aku hanya mampu mengingat bayangan dari imajinasi yang kuciptakan sendiri.  Nalika tangan mungilku dibawanya dalam genggaman kemesraan. Seindah itukah kasih ibu?. Lebih.
Andaikan saja ada satu kata di atas cinta, di atas sayang, tentu seperti itu naluri ibu. Semua ini terlalu rumit bagi dua bola mata yang belum mengerti bagaimana melihat. Sebuah perpisahan yang belum dipahami oleh benak. Sebuah perpisahan yang bahkan aku sendiri tak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Yang pasti, kala itu aku masih terlalu hijau sehingga belum mengenal apa yang disebut kematian.

Aku juga merindukannya, Tuhan.. merindukan sesosok wanita dengan sentuhan kelembutan yang belum sempat kuingat. Merindukan malaikat kecil dengan sifat kasih sayang yang Kau tiupkan ke dasar hatinya. Meskipun tak kurasa, aku percaya cintanya adalah cinta terbaik diantara cinta-cinta manusia lainnya.

Namun, lagi-lagi aku lupa bersyukur akan kebaikanMu, Tuhan. Yang telah membiarkan satu manusia tetap hidup bersamaku. Beliau yang kini telah melewati separuh dari perjalanan usianya. Tubuhnya yang mulai renta itu adalah saksi atas perjuangannya menyambung hidupku, menempatkanku di bawah atap perguruan tinggi. Sedangkan organ pernapasan yang mengalami penurunan kinerja itu menjadi saksi ketika dadanya meyimpan udara kerinduan.

Maafkan aku yang belum bisa membalas kebaikanmu, ayah. Maafkan atas banyaknya khilafku selama ini yang belum kuperbaiki.
Aku tahu, ayah.. mungkin saat itu kau sangat lelah, setelah seharian penuh merangkak mengais butir demi butir nasi hanya untuk menghidupiku, tapi aku yang kurang ajar ini memaksamu untuk tetap terjaga, demi menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur untukku. Kata maafpun rasanya belum cukup, ayah. Ketika dulu aku pernah memukulimu hanya karena kau tak mau menjawab dimana ibuku. Saat aku di sini terlalu banyak bermain sehingga lupa akan kewajibanku, bukankah saat itu aku sedang menyakitimu, ayah? Padahal, kau adalah orang pertama yang merasakan lebih dari sakit ketika aku terluka. Bukankah ini tak adil, ayah?
Aku menyesal ayah, mengapa bukan namamu yang pertama kali kusebut saat aku belajar bicara? Mengapa juga bukan namamu yang pertama kali kuukir ketika aku belajar menulis. Aku tak bisa menghitung seberapa kali aku pernah melukaimu. Aku benci ketika diri ini belum bisa menjadi alasanmu ketika orang bertanya mengapa kau tersenyum?.

“Drrrrtttttt..” suara getaran ponsel itu meggugahku, segera kuraihnya.
“Selamat malam, Nak” suara pemilik rinduku ini terdengar sayup-sayup dari seberang sana.
“Ayah.. aku merindukanmu, yah”
“Pulanglah, Nak. Sudah hampir empat bulan ini kita tak bersua. Ayahpun merindukanmu” suara itu.. suara yang semakin hari semakin terdengar lirih.
Aku hanya terdiam, aku bingung harus dengan kalimat apa lagi untuk mengelabuhi orang yang paling tulus ini. Aku hanya tidak ingin beliau menambahi uang saku untukku, aku ingin hidup dari tulangku sediri. Aku sudah berjanji tidak akan pulang sebelum membawa uang, agar ayah tak perlu repot mencarikan pinjaman untuk mengisi dompetku.
“Kok diam, Nak. Bukankah besok sampai lusa tanggal merah, sedangkan besoknya lagi hari sabtu dan minggu? Libur empat hari bisa kau gunakan untuk pulang, Nak”
“Aku tidak bisa pulang lagi, yah. Besok dan lusa ada kegiatan training ESQ di kampus, dan seluruh mahasiswa diwajibkan untuk datang, sedangkan sabtu dan minggunya ada,…”
“Ya sudah, Nak. Ayah mengerti” ayah memotong dalihku.
Bahkan sebelum sempurna aku mengajukan alasan, ayah sudah lebih dulu mengerti. Ya Tuhan, betapa munafik lisan ini. Betapa dzalim diri ini, dibalik tutur manisku aku sedang menyimpan pilu untuknya. Untuk orang yang paling mencintaiku.
 ”Belajar yang sugguh-sungguh ya, Nak. Biar nantinya kamu tidak seperti ayah”
“Maafkan Moza, ayah. Moza belum bisa mengobati rindu ayah, Moza pasti pulang”
“Iya, sayang.. ayah percaya” ayahpun menutup percakapan kami.
Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, bukan aku sedang belajar melupakan, melainkan belajar mencari jalan untuk menyejahterakan masa tuanya. Mungkin menahan rindu sejenak adalah pengorbanan yang tak seberapa, jika memang rencanaku ini diridhoi Tuhanku. Merasakan sayatan hati oleh kerinduan kasih sayangnya bukanlah suatu yang berarti, jika menghitung seberapa kali beliau berkorban untukku.
Aku hanya menutup pendengaranku, ketika orang-orang disekitar mencibirku sebagai anak setan. Yang rela menelantarkan ayahnya berbaring dipeluk kesunyian. Aku percaya ayah sedang baik-baik saja di sana. Aku percaya ayah tak akan berbohong padaku.
“Ayah baik-baik saja, Nak. Jangan dengar gunjingan orang, lanjutkan pencarianmu” begitulah kalimat yang selalu kudengar ketika aku sedang memastikan keadaannya baik-baik saja.
Ayah, bersabarlah. Sebentar lagi aku akan menjadi alasan mengapa kau tersenyum. Sebentar lagi aku wisuda ayah. Saat nanti aku tersenyum atas keberhasilan ini, tentu ayah adalah orang yang melompat bahagia paling tinggi. Saat aku bangga dengan penghasilanku, tentu ayah adalah orang yang lebih bangga. Terima kasih ayah, kau adalah manusia terhebat yang pernah kukenal, seumur aku tinggal di dunia ini aku tak sekalipun pernah mendengar kau mengeluh.
“Moza, kapan kamu pulang Nak? Ayah sudah rindu..”
“Bersabarlah, ayah. Tak lama lagi Moza pulang, masih ada sedikit urusan yang belum kuselesaikan. Tunggu di sana ya, ayah”
Percakapan itu adalah terakhir kalinya aku meminta ayah bersabar menunggu kepulanganku, dan hari ini adalah  hari di mana impianku terwujud. Sebentar lagi aku akan melihat ketika aku disebut sebagai alasan ayahku tersenyum. Ya, Tuhan.. aku bahagia hari ini.
Aku pulang, ayaah..


*****
Tapi, ada apa di sana? Bendera kuning itu?

“Moza.. ayahmu, Nak” suara setengah menangis itu kudengar dari mulut salah satu perempuan tua di tengah kerumunan sana.
Aku tak punya sepatah katapun, rasanya kosa kata yang kumiliki selama ini lenyap begitu saja. Benarkah ini? Benarkah raga yang terbungkus kafan itu ayahku? Tidak mungkin.. tidak mungkin ayah memohongiku, ayah bilang akan tetap sabar menanti kepulanganku. Ayah…. Aku merindukanmu, ayah. Tapi mengapa sebelum sempat aku membuatmu tersenyum kau sudah tak sabar menantiku? Aku punya banyak khilaf yang belum sempat kupintai ampunan. Mengapa kau selalu membohongiku selama ini, ayah? kau bilang kau baik-baik saja. Namun, mengapa sebelum tumor itu membunuhmu, kau tak pernah berbagi sedikitpun kesakitan yang kau derita? Bukankah ini lebih melukaiku, ayah?

Lalu, cinta siapa lagi yang kurindukan, ayah?.


Ya Tuhan, begitu kejikah diri ini? Sebegitu tak percayakah Engkau memberiku amanah,  sehingga kau mengambil kembali titipanmu secepat ini? Ampuni aku Tuhan, ampuni raga yang bermata-hati buta ini. Mungkin aku lupa cara bersyukur kepadaMu, mungkin aku lupa dari mana asal perasaan cinta kasih yang dimiliki ayah ibuku. Atau mungkin aku terlalu mengagumi kelembutan mereka, sehingga aku lupa Engkaulah Dzat Yang Maha Lembut. Mungkin berlebihan caraku memuji perasaan kasih sayang yang mereka punya, hingga aku lupa Engkaulah pencipta kasih sayang itu sendiri. Ampuni aku, Tuhan. 
Kini aku mengerti alasanMu mengambil mereka, Kau hanya ingin aku melihat bahwa cinta hakiki adalah Engkau, bahwa sandaran terindah pun Engkau. Hanya Engkau satu-satunya Dzat, Tuhanku, yang tak pernah mati, yang senantiasa setia merangkulku. Relakan air mata ini mengikis karang-karang dosaku, Tuhan.

Kamis, 12 Maret 2015

Sepenggal Cerita Tentang Maret

Malam semakin redup dengan hening yang begitu mencekik. Masih seperti biasa, pun dengan kegiatan yang selama ini dilakoninya. Dengan jari lentiknya yang begitu piawai menorehkan tinta di atas lembaran-lembaran putih. Begitulah perempuan itu mengadu, bercerita pada setiap kata yang ia tuliskan. Bercerita tentang Maret. Ya, tentang Maret. Di bulan Maret itulah ia dipertemukan oleh takdirnya dengan seorang Dimas. Lelaki yang menurutnya sopan, pintar, cakap bergaul, dan mahir dalam berorganisasi. Di bulan Maret itu juga ia akhirnya menaiki tangga sweet seventeennya melalui pertemuan singkat dalam acara tahunan di sekolah tempat ia menimba ilmu, lebih tepatnya dalam acara “Gebyar Muharram”.
Dengan tanpa disengaja, kedua hati diantara mereka saling terpaut. Nampaknya bibit cinta tengah membenih di bulan Maret, tumbuh dan berbunga dengan mahkota elok nan sempurna. Terasa amat manis kala itu, sebelum Maret berakhir, sebelum bunga tersebut layu kemudian mengering karena terlalu lama dibiarkan.
“Ah, untuk apa diingat kembali? Semuanya hanyalah sebatas penggalan cerita tentang Maret, yang tak ada bedanya dengan bulan-bulan lain”. Perempuan itu membubarkan lamunannya. Sekadar menghibur diri atau mencoba meyakini bahwa Maret telah berlalu? Entahlah, yang pasti ia tengah menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan nanar dibalik mata sipitnya yang sembab. Kini, ia kembali menengadahkan wajah. Menahan air matanya agar tidak tumpah. Menyakitkan memang, seperti duri dalam daging. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja cinta menghilang. Menjadi begitu dingin, acuh, seakan tak peduli tanpa megapa dan karena apa?. Sementara kabar burung ia tengah bersama dengan perempuan lain.
Lama sudah ia membeku, tanpa hangatnya sebuah sapaan. Hidupnya yang ada kini hanya abu-abu, begitu hambar ibarat sayur tanpa garam. Bahkan kini ia tengah lupa cara mengeja tawa, lupa bagaimana berharap, juga lupa bagaimana menggenggam jemari.
Lagi-lagi ia harus menutup matanya rapat-rapat.  Agar tak ada setetespun air matanya yang menitik. Meski ia harus kembali malu, ketika tersadar rupanya ada yang mengintai dibalik cermin. Ya, benda mati itu telah berhasil merekam nada isaknya, sempat juga memergoki sebutir bening tengah menggantung di sudut matanya. Menggelayut lembut dan berakhir pecah diusapan ujung jari.
Sejenak hening kembali, perempuan itu semakin tampak tenggelam dalam rasa sesal sekaligus kecewa. Meski sesekali menghirup segarnya rindu. Rindu tentang Maret yag dulu, sebelum berakhir dan berganti April. Rindu sebuah tempat yang menurutnya sederhana namun istimewa. Sebuah tempat bertuliskan “Warung Bakso Pak Pardjo”.
“Livia, aku punya pertanyaan untukmu?”
“Tanyakan saja, kekasihku!”
“ Sebenarnya apa alasanmu memilihku?”
“Haruskah aku menjawabnya?” remaja lelaki itu pun mengangguk.
“Sekalipun aku menjawabnya, aku yakin kamu tak akan percaya. Rasanya semua alasan itu akan sulit untuk diterima oleh nalar. Ketahuilah Dimas, dalam percitaan logika selalu kalah melawan perasaan”. Begitu kata perempuan itu dengan bijaknya.
“Iya, aku tahu. Tapi apa?”
“Aku jatuh hati pada tahi lalatmu. Lucu dan menggemaskan” jawabnya dengan senyuman manja.
“Hmmmm, rupanya kau pintar menggoda juga..” jawab Dimas sembari mencubit lembut lengan perempuan itu.
Begitulah Maret yang selalu ia rindukan. Ada pula cerita tentang sebuah tempat, begitu damai nan tenang. Di mana hanya ada mereka berdua di sana, dengan sehampar rumput ilalang menari-nari bahagia. Di saat semilir angin meniup lembut membelai mesra rambutnya hingga tergerai, Dimas bilang;
“Ahh, angin itu membuatku cemburu saja”
Livia hanya tersipu.
Maret memang manis, begitu syahdu dengan segala kemesraan. Lalu bagaimana dengan April? Teranglah sudah, kemarin tak akan pernah sama dengan hari ini. Sampai kapanpun itu.
Dulu setiap detik Dimas selalu ingin tahu tentangnya, bahkan hal paling sepele sekalipun. “sudah makan, belum?”, “sedang apa, sayang..?” atau kalimat-kalimat lain yang senada.
Tapi, kini perempuan berperawakan tinggi janjang itu harus terbujur kaku tanpa senyap, menanti angin berbisik membawa kabar tentang kekasihnya.
Lama ia menatap ponsel di sudut meja kamarnya lumpuh tak bergerak, tak menada pun bergetar. Mungkin saja sinyal tengah bosan menjadi penghubung di antara mereka, atau.. entahlah.
Untuk ke sekian kalinya ia kembali mengirim pesan pendek  kepada Dimas. Namun, hasilnya nihil. Tak satupun pesannya yang terbalas. Berkali-kali melakukan panggilan, tetapi hanya “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab” yang terdengar dari seberang sana.
Sebenarnya sebab apa kiranya Dimas menjauh. Livia tak pernah tahu tentang itu. Ia memang perempuan yang tak begitu pandai menerjemahkan isyarat. Begitupun menurut pandangan orang-orang, ia dinilai sebagai gadis polos yang lugu dan senantiasa berhati-hati dalam menjaga kata.
Keesokan hari ia mendapati seuntai pesan menyapa layar ponsel yang selama ini begitu pendiam. Kata demi kata diejanya dengan cermat.
“Aku ingin bertemu denganmu sekarang, kutunggu di tempat biasa.”
Seketika wajahya merona, tampak kebahagiaan tengah membuncah seperti pelangi di mata yang semula memudar.
Segera ia menapakkan langkah degan sejuta asa, menyambut kembali cinta yang sempat merajuk.
“Aku merindukanmu Dimas..” begitu sapanya lirih sembari memeluk lelaki berbadan tegap itu dari arah belakang. Perempuan itu degan amat indahnya melepas keriduan yang selama ini ia pikul sendiri.
“Maafkan aku Livia, aku rasa cukup di sini saja” Dimas melepaskan pelukan itu.
“Tapi kenapa Dim? Beri aku satu alasanmu melepasku!”
“Aku hanya merasa kamu terlalu baik untukku”
“Itu bukan alasan, Dim!”
“Kau pernah bilang sendiri, dalam cinta  logika tidak akan pernah mampu mencerna segala macam bentuk alasan” Begitu penjelasan  Dimas panjang lebar.
Sejenak bisu tanpa nada, perempuan itu hanya menengadah ke atas, membendung kuat agar air matanya tak melinang. Sedang lelaki seusia dua puluh satuan itu kembali menggerakkan lidahnya.
“Apa kau baik-baik saja, Livia?”
“Memang seharusnya aku kenapa, Dim?”
Lelaki itu hanya menggeleng.
“Aku tidak serapuh itu” Jawab Livia singkat.
Cukup lama mereka berselimut diam, tampak ada sesuatu yang saling ingin diungkap. Tapi waktu tak pernah rela menuggu. Dan kini, Dimas benar-benar berlalu.
“Terima kasih Dimas, sudah sempat singgah di palung hatiku”. Perempuan itu memang tampak tegar dari kejauhan, meski batinnya entah seperti apa. Seharusnya memang tak ada yang perlu disesali. Beginilah hidup, perjalanannya seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Dan apapun yang terjadi, Livia harus ikhlas akan itu.