Sabtu, 11 Juli 2020

Perspektif Sains terhadap Teori Parallel Universe dalam Drama The King: Eternal Monarch

The King: Eternal Monarch adalah seri televisi Korea Selatan yang tayang pada pertengahan tahun 2020. Drama berjumlah 16 episode ini menceritakan seorang Raja Korea Selatan bernama Lee Gon yang secara tidak sengaja telah melintasi dunia paralel dan bertemu dengan seorang gadis bernama Jung Tae-eul. Lee Gon yang semula sedang berkuda di tengah hutan (di dunianya) tiba-tiba berada di tengah jalan raya yang padat dan dipenuhi lalu lalang kendaraan bermotor. Ia kemudian menyadari bahwa dirinya telah melintasi ‘dunia lain’ begitu melihat spanduk besar berisi pernyataan bahwa saat ini Korea Selatan berada dibawah pimpinan seorang Ratu bernama Yoona, bukan dirinya.

Sisi science-fiction pada drama ini semakin menarik setelah Lee Gon menjumpai beberapa orang di dunia paralel memiliki tampilan fisik yang sama dengan orang yang berada di dunianya, meskipun nama, DNA, latar belakang, profesi, dan lain-lainnya berbeda. Di sisi lain, Jung Tae-eul yang berprofesi sebagai detektif kepolisian dan melakukan penangkapan terhadap Lee Gon atas kasus pelanggaran lalu lintas, hanya mengabaikan penjelasan Lee Gon yang mengaku datang dari dunia lain. Pertanyaan pertama yang muncul di benak pemirsa yang paling mungkin saat atau setelah menyaksikan drama ini adalah “Apakah dunia paralel itu benar-benar ada?” Kemudian disusul pertanyaan, “Diantara dunia Lee Gon dan dunia Jung Tae-eul, manakah yang real? dan manakah yang imajiner?” atau, “Selain dunia mereka, berapakah jumlah dunia paralel yang lainnya?”

Salah satu cabang ilmu yang mendalami pembahasan tentang fenomena multiverse (dunia paralel) di alam semesta adalah fisika. Dalam fisika terdapat pembagian ranah lingkup menjadi dua, yaitu fisika klasik dan fisika modern atau kuantum. Fisika klasik berkembang sampai akhir abad sembilan belas dan mempunyai dua cabang utama, yaitu mekanika klasik Newtonian dan medan elektromagnetik Maxwellian. Ciri utama yang membedakan antara fisika klasik dan fisika kuantum terletak pada sifat fisika klasik yang common sense dan deterministik,  artinya keadaan suatu partikel di masa lalu dan di masa depan dapat diketahui secara pasti berdasarkan keadaan partikel saat ini. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat terukur dan pasti. Akan tetapi pada kenyataannya, beberapa fenomena fisis tidak dapat dijelaskan oleh teori fisika klasik, seperti fenomena Radiasi Benda Hitam, Efek Fotolistrik, Efek Compton, Hipotesis de Broglie, Difraksi Elektron, dan fenomena lainnya.

Adanya krisis fisika klasik inilah yang kemudian melahirkan solusi penyelesaian baru, yaitu lahirnya teori mekanika kuantum. Objek pembahasan utama di dalam mekanika kuantum adalah cahaya. Dalam fisika, cahaya merupakan entitas yang mempesona. Bukan hanya karena cahaya memiliki kecepatan rambat tertinggi di alam semesta, melainkan juga dualisme sifatnya sebagai partikel dan gelombang dalam waktu bersamaan. Probabilitas sifat cahaya ini digambarkan dengan analogi pada percobaan Cat Schrodinger (baca tentang percobaan Cat Schrodinger), dimana sebelum kotak dibuka, terdapat dua kemungkinan bahwa kucing schrodinger mati dan hidup dalam waktu yang sama. Sehingga dalam fisika kuantum, di alam semesta ini tidak ada yang benar-benar pasti, yang ada hanya probabilitas. Bahkan tentang keberadaan dunia paralel. Prinsip ini merupakan fakta mendasar dari alam dan bukan sekadar disebabkan oleh ketidaksempurnaan pengukuran.

. Teori dunia paralel didasari oleh ketidakterbatasan semesta yang memungkinkan adanya kehidupan lain yang sama di luar galaksi kita. Bahkan disebutkan bahwa alam semesta memiliki cabang setiap saat. Meskipun tidak dapat dibuktikan secara nyata, sebagaian besar ilmuwan fisika meyakini bahwa selain dunia yang kita tinggali saat ini terdapat dunia lain yang juga berjalan beriringan, sejajar, dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Dunia paralel tercipta berdasarkan alternatif realitas dari kemungkinan di setiap kejadian, dan terus bertambah setiap menit bahkan setiap detik dalam jumlah tak hingga. Contoh sederhananya, seorang siswa mengerjakan 20 butir soal dengan memilih jawaban A pada soal nomor 1, kemudian pada kemungkinan yang lain dia memilih jawaban B, pada kemungkinan yang lainnya lagi dia memilih C, D, atau E. Begitu pula kemungkinan yang terjadi pada soal nomor 2 sampai 20. Selain itu juga terdapat kemungkinan siswa tersebut tidak menjawab soal karena kesulitan, kehabisan waktu, meninggalkan kelas karena sakit perut, atau mendapat telpon dari keluarga, atau dipanggil guru BK, atau banyak lagi kemungkinan yang lainnya. Contohnya lagi, seseorang hendak menyebrang di jalan raya, di satu dunia dia berhasil menyebrang tanpa gangguan, di dunia paralel dia berhasil menyebrang tetapi tersandung dan tersungkur, di dunia paralel yang lain terdapat truk yang melaju kencang dan menabraknya. Artinya dari setiap kemungkinan akan tercipta dunia baru.

Dunia yang satu merupakan imajiner dari dunia yang lain. Tetapi tidak ada yang menyadari kehadiran satu sama lain, juga tidak menyadari mana yang sebenarnya nyata dan mana yang imajiner.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar