Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menciptakan manusia yang sangat sempurna dalam mencintaiku. Menghadirkan sosok ayah yang amat luar biasa. Ketika ayah-ayah yang lain menggunakan kedua tangannya untuk bekerja, ayahku yang sedari awal memang sengaja Kau ciptakan sebagai manusia hebat melakukan pekerjaan ganda sekaligus. Di saat satu tangannya ia gunakan untuk memungut koin dari perasan keringatnya, tangannya yang lain ia gunakan untuk merangkulku.
Aku bahkan tak mengenal sosok lain, ketika teman-teman mainku memiliki seorang wanita yang disebutnya ‘Ibu’, aku cukup memiliki satu orang saja. Orang yang paling setia menemaniku mengarungi sajadah panjang kehidupanku ini.
Aku tidak tahu, mengapa Tuhan memilihkan jalan yang berbeda. Mengapa Tuhan megambil kesempatanku untuk mengerti yang dinamakan kasih putih itu?.
Sekalipun aku merasa ini semua tak adil. Namun, tetap saja suara hatiku berbisik selalu ada hikmah yang dibungkus-Nya dalam sembilu.
Yang kusesalkan bukan tentang mengapa Kau mengambilnya lebih dulu, melainkan mengapa Kau tak biarkan aku mengingat seperti apa ia, seperti apa pelukannya, seperti apa tatkala tangan lembutnya itu membelai kulitku. Aku ingin tahu itu, Tuhan…
Ketika rasa keingin tahuan ini menganiaya, aku cukup sanggup mengacak-acak tiap arsip yang tersimpan apik di memoriku. Hanya sekadar mencari selembar kenangan tentang ‘Ibu’. Namun, apa yang bisa kudapat? Tak ada, hanya kosong yang kugenggam. Aku tak bisa menangkap berkas itu secara nyata. Aku hanya mampu mengingat bayangan dari imajinasi yang kuciptakan sendiri. Nalika tangan mungilku dibawanya dalam genggaman kemesraan. Seindah itukah kasih ibu?. Lebih.
Andaikan saja ada satu kata di atas cinta, di atas sayang, tentu seperti itu naluri ibu. Semua ini terlalu rumit bagi dua bola mata yang belum mengerti bagaimana melihat. Sebuah perpisahan yang belum dipahami oleh benak. Sebuah perpisahan yang bahkan aku sendiri tak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Yang pasti, kala itu aku masih terlalu hijau sehingga belum mengenal apa yang disebut kematian.
Aku juga merindukannya, Tuhan.. merindukan sesosok wanita dengan sentuhan kelembutan yang belum sempat kuingat. Merindukan malaikat kecil dengan sifat kasih sayang yang Kau tiupkan ke dasar hatinya. Meskipun tak kurasa, aku percaya cintanya adalah cinta terbaik diantara cinta-cinta manusia lainnya.
Namun, lagi-lagi aku lupa bersyukur akan kebaikanMu, Tuhan. Yang telah membiarkan satu manusia tetap hidup bersamaku. Beliau yang kini telah melewati separuh dari perjalanan usianya. Tubuhnya yang mulai renta itu adalah saksi atas perjuangannya menyambung hidupku, menempatkanku di bawah atap perguruan tinggi. Sedangkan organ pernapasan yang mengalami penurunan kinerja itu menjadi saksi ketika dadanya meyimpan udara kerinduan.
Maafkan aku yang belum bisa membalas kebaikanmu, ayah. Maafkan atas banyaknya khilafku selama ini yang belum kuperbaiki.
Aku tahu, ayah.. mungkin saat itu kau sangat lelah, setelah seharian penuh merangkak mengais butir demi butir nasi hanya untuk menghidupiku, tapi aku yang kurang ajar ini memaksamu untuk tetap terjaga, demi menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur untukku. Kata maafpun rasanya belum cukup, ayah. Ketika dulu aku pernah memukulimu hanya karena kau tak mau menjawab dimana ibuku. Saat aku di sini terlalu banyak bermain sehingga lupa akan kewajibanku, bukankah saat itu aku sedang menyakitimu, ayah? Padahal, kau adalah orang pertama yang merasakan lebih dari sakit ketika aku terluka. Bukankah ini tak adil, ayah?
Aku menyesal ayah, mengapa bukan namamu yang pertama kali kusebut saat aku belajar bicara? Mengapa juga bukan namamu yang pertama kali kuukir ketika aku belajar menulis. Aku tak bisa menghitung seberapa kali aku pernah melukaimu. Aku benci ketika diri ini belum bisa menjadi alasanmu ketika orang bertanya mengapa kau tersenyum?.
“Drrrrtttttt..” suara getaran ponsel itu meggugahku, segera kuraihnya.
“Selamat malam, Nak” suara pemilik rinduku ini terdengar sayup-sayup dari seberang sana.
“Ayah.. aku merindukanmu, yah”
“Pulanglah, Nak. Sudah hampir empat bulan ini kita tak bersua. Ayahpun merindukanmu” suara itu.. suara yang semakin hari semakin terdengar lirih.
Aku hanya terdiam, aku bingung harus dengan kalimat apa lagi untuk mengelabuhi orang yang paling tulus ini. Aku hanya tidak ingin beliau menambahi uang saku untukku, aku ingin hidup dari tulangku sediri. Aku sudah berjanji tidak akan pulang sebelum membawa uang, agar ayah tak perlu repot mencarikan pinjaman untuk mengisi dompetku.
“Kok diam, Nak. Bukankah besok sampai lusa tanggal merah, sedangkan besoknya lagi hari sabtu dan minggu? Libur empat hari bisa kau gunakan untuk pulang, Nak”
“Aku tidak bisa pulang lagi, yah. Besok dan lusa ada kegiatan training ESQ di kampus, dan seluruh mahasiswa diwajibkan untuk datang, sedangkan sabtu dan minggunya ada,…”
“Ya sudah, Nak. Ayah mengerti” ayah memotong dalihku.
Bahkan sebelum sempurna aku mengajukan alasan, ayah sudah lebih dulu mengerti. Ya Tuhan, betapa munafik lisan ini. Betapa dzalim diri ini, dibalik tutur manisku aku sedang menyimpan pilu untuknya. Untuk orang yang paling mencintaiku.
”Belajar yang sugguh-sungguh ya, Nak. Biar nantinya kamu tidak seperti ayah”
“Maafkan Moza, ayah. Moza belum bisa mengobati rindu ayah, Moza pasti pulang”
“Iya, sayang.. ayah percaya” ayahpun menutup percakapan kami.
Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, bukan aku sedang belajar melupakan, melainkan belajar mencari jalan untuk menyejahterakan masa tuanya. Mungkin menahan rindu sejenak adalah pengorbanan yang tak seberapa, jika memang rencanaku ini diridhoi Tuhanku. Merasakan sayatan hati oleh kerinduan kasih sayangnya bukanlah suatu yang berarti, jika menghitung seberapa kali beliau berkorban untukku.
Aku hanya menutup pendengaranku, ketika orang-orang disekitar mencibirku sebagai anak setan. Yang rela menelantarkan ayahnya berbaring dipeluk kesunyian. Aku percaya ayah sedang baik-baik saja di sana. Aku percaya ayah tak akan berbohong padaku.
“Ayah baik-baik saja, Nak. Jangan dengar gunjingan orang, lanjutkan pencarianmu” begitulah kalimat yang selalu kudengar ketika aku sedang memastikan keadaannya baik-baik saja.
Ayah, bersabarlah. Sebentar lagi aku akan menjadi alasan mengapa kau tersenyum. Sebentar lagi aku wisuda ayah. Saat nanti aku tersenyum atas keberhasilan ini, tentu ayah adalah orang yang melompat bahagia paling tinggi. Saat aku bangga dengan penghasilanku, tentu ayah adalah orang yang lebih bangga. Terima kasih ayah, kau adalah manusia terhebat yang pernah kukenal, seumur aku tinggal di dunia ini aku tak sekalipun pernah mendengar kau mengeluh.
“Moza, kapan kamu pulang Nak? Ayah sudah rindu..”
“Bersabarlah, ayah. Tak lama lagi Moza pulang, masih ada sedikit urusan yang belum kuselesaikan. Tunggu di sana ya, ayah”
Percakapan itu adalah terakhir kalinya aku meminta ayah bersabar menunggu kepulanganku, dan hari ini adalah hari di mana impianku terwujud. Sebentar lagi aku akan melihat ketika aku disebut sebagai alasan ayahku tersenyum. Ya, Tuhan.. aku bahagia hari ini.
Aku pulang, ayaah..
*****
Tapi, ada apa di sana? Bendera kuning itu?
“Moza.. ayahmu, Nak” suara setengah menangis itu kudengar dari mulut salah satu perempuan tua di tengah kerumunan sana.
Aku tak punya sepatah katapun, rasanya kosa kata yang kumiliki selama ini lenyap begitu saja. Benarkah ini? Benarkah raga yang terbungkus kafan itu ayahku? Tidak mungkin.. tidak mungkin ayah memohongiku, ayah bilang akan tetap sabar menanti kepulanganku. Ayah…. Aku merindukanmu, ayah. Tapi mengapa sebelum sempat aku membuatmu tersenyum kau sudah tak sabar menantiku? Aku punya banyak khilaf yang belum sempat kupintai ampunan. Mengapa kau selalu membohongiku selama ini, ayah? kau bilang kau baik-baik saja. Namun, mengapa sebelum tumor itu membunuhmu, kau tak pernah berbagi sedikitpun kesakitan yang kau derita? Bukankah ini lebih melukaiku, ayah?
Lalu, cinta siapa lagi yang kurindukan, ayah?.
Ya Tuhan, begitu kejikah diri ini? Sebegitu tak percayakah Engkau memberiku amanah, sehingga kau mengambil kembali titipanmu secepat ini? Ampuni aku Tuhan, ampuni raga yang bermata-hati buta ini. Mungkin aku lupa cara bersyukur kepadaMu, mungkin aku lupa dari mana asal perasaan cinta kasih yang dimiliki ayah ibuku. Atau mungkin aku terlalu mengagumi kelembutan mereka, sehingga aku lupa Engkaulah Dzat Yang Maha Lembut. Mungkin berlebihan caraku memuji perasaan kasih sayang yang mereka punya, hingga aku lupa Engkaulah pencipta kasih sayang itu sendiri. Ampuni aku, Tuhan.
Kini aku mengerti alasanMu mengambil mereka, Kau hanya ingin aku melihat bahwa cinta hakiki adalah Engkau, bahwa sandaran terindah pun Engkau. Hanya Engkau satu-satunya Dzat, Tuhanku, yang tak pernah mati, yang senantiasa setia merangkulku. Relakan air mata ini mengikis karang-karang dosaku, Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar