Sabtu, 28 Oktober 2017

Ikrar: Tepat di Saat Kujabat Tangan Ayahmu

Tinggg Tongggg.....”

Sontak lamunannya tergugah, Ia berjalan menuju ke arah pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu dan hendak membukanya. Ia terhenti dan sempat tampak sedang memikirkan sesuatu, kemudian melepaskan tangannya dan segera menata wajahnya, mengusap dan menepuk-nepuk kedua belah pipinya. Ia menghela napas panjang, sekali ia terlihat tersenyum seorang diri seakan totalitas menyambut kedatangan tamu istimewanya. Dibukanya pintu itu. Ternyata suaminya yang sejak tadi berdiri di balik pintu tersebut.

“Sudah pulang, mas?” Sapanya sesaat setelah memperlihatkan sebaris gigi putihnya, kemudian bergegas ia membawakan tas kerja milik suaminya. 

Ia mengantarkan lelaki muda itu ke kamar. Membantu melepas jas yang dikenakannya sembari berbicara banyak hal tentang aktivitasnya di rumah sejak seharian tadi, ia juga bercerita tentang masakan kesukaan suaminya itu. Frans hanya berdiam seksama mengamati setiap sudut wajah istrinya. Ivana yang tak menyadari itu hanya sibuk melepaskan dasi suaminya, kemudian Frans menghentikan tangan lembut istrinya. Ivana kemudian menatap mata suaminya dan tersenyum, lalu berkata:

“Kamu pasti sudah sangat lapar ‘kan, mas?”.
Frans sedikit gemas mendengarnya.
“Ya sudah kalau gitu kita makan aja sekarang”. Ivana membalikkan badan dan menaruh jas Frans di atas tempat tidur.
Frans memeluknya dari arah belakang, menyandarkan kepalanya di kepala istrinya. Ivana hanya terdiam.

“Kenapa kamu selalu seperti ini?,,” tanya Frans pasrah.
“Kenapa kamu selalu mengabaikan perasaanmu dan baik padaku?” tanya Frans dengan suara setengah berbisik.
“Ada apa, mas?” tanya Ivana memastikan.
“Kenapa kamu selalu berpura-pura seakan kamu sedang baik-baik saja?”
Ivana terdiam. Tampak kedua sudut matanya sedikit basah. Frans memeluknya sangat lama. Seperti banyak yang ingin ia sampaikan, namun entah yang keluar hanya:
“Maafkan aku”
Ivana masih terdiam.
 “Kamu pasti sudah tahu kalau sebenarnya hari ini aku ngga ada meeting ‘kan?”
“He’em”
“Apakah kamu tahu kalau tadi siang aku ke stasiun?”
“He’em”
“Apa kamu tahu untuk apa aku kesana?”
“He’em”
“Apa...” tanya Frans agak ragu, kemudian dilanjutnya: “Apa kamu juga tahu siapa yang tadi aku temui di sana?”
“Hmmm” jawab Ivana setengah mengangguk, “Aku tahu. Semuanya.” Lanjut Ivana pelan, menahan tangisnya. Membayangkan kejadian siang tadi, ketika lisan milik suaminya itu berakhir menuai luka di hatinya.
 
Frans mengeratkan pelukannya, sambil menutup mata ia tampak sesekali mencium rambut istrinya.
“Lalu kenapa kamu tidak marah ataupun bertanya sesuatu? Apa kamu tidak mengerti, memberiku hukuman dengan sikapmu seperti ini justu membuatku semakin sakit” kata Frans masih dengan memeluknya
“Aku juga ingin sekali marah, mas. Aku juga menyimpan banyak pertanyaan. Tapi lagi-lagi ego ku selalu kalah. Aku sadar bahwa dengan aku marah tidak akan bisa membawamu berjalan mundur, aku sadar bahwa pertanyaan bodohku hanya akan memperburuk keadaan” jawab Ivana dengan tatapan kosongnya.
“Kamu tahu ‘kan, apa yang paling ampuh membunuhku?” tanya Ivana lagi, “Adalah dihianati orang yang sangat aku percaya. Itu adalah kelemahanku. Aku memberitahumu karena kamu bukan lawanku, melainkan aku mengharap rasa kasihanmu agar jangan sampai melakukannya padaku”. pungkasnya dengan suara hampir tak terdengar karena menahan isaknya.

Ivana mengerti, mungkin itu hanya salah paham. Tapi entah mengapa masih ada yang menganga jauh di dalam sana. Mungkin begitulah hati perempuan. Seperti sutera yang tergores kuku tak rata, cacat. Meski tak peduli sekecil apapun itu.

“Saat dengan sadar Aku menjabat tangan ayahmu, kau tau apa artinya itu?” Tanya Frans masih dengan merangkulnya. “Aku telah memilih untuk hanya mencintaimu di sepanjang sisa umurku, Aku hanya ingin tumbuh tua bersamamu, Ivana” Frans mencoba menjelaskan, Ivana menitikkan air mata haru.

“Jauh dari semua itu, terkadang Aku hanya takut Kau tidak benar-benar mencintaiku, mas. Aku takut jika ternyata selama ini Aku hanya mencintaimu sendirian. Aku mohon, sebisa mungkin jangan pernah mengunjungi ruang masa lalumu lagi. Karena saat Kau melakukannya, Aku takut Kau nyaman dan ingin tinggal di sana” Jawab Ivana.

“Apa Kau akan memaafkanku dengan semudah ini?”
“Karena cintaku terlalu banyak, berlapis-lapis dan tak pernah habis, maka Aku memilih untuk memaafkanmu” pungkas perempuan berperawakan tinggi jenjang itu.
 
 
 
 
 
 
 
*******
Tulisan ini Aku persembahkan untuk seseorang yang hidup dalam dongengku, kamu.

3 komentar: