“Tinggg Tongggg.....”
Sontak
lamunannya tergugah, Ia berjalan menuju ke arah pintu. Tangannya menggenggam
gagang pintu dan hendak membukanya. Ia terhenti dan sempat tampak sedang
memikirkan sesuatu, kemudian melepaskan tangannya dan segera menata wajahnya,
mengusap dan menepuk-nepuk kedua belah pipinya. Ia menghela napas panjang,
sekali ia terlihat tersenyum seorang diri seakan totalitas menyambut kedatangan
tamu istimewanya. Dibukanya pintu itu. Ternyata suaminya yang sejak tadi
berdiri di balik pintu tersebut.
“Sudah
pulang, mas?” Sapanya sesaat setelah memperlihatkan sebaris gigi putihnya,
kemudian bergegas ia membawakan tas kerja milik suaminya.
Ia
mengantarkan lelaki muda itu ke kamar. Membantu melepas jas yang dikenakannya
sembari berbicara banyak hal tentang aktivitasnya di rumah sejak seharian tadi,
ia juga bercerita tentang masakan kesukaan suaminya itu. Frans hanya berdiam
seksama mengamati setiap sudut wajah istrinya. Ivana yang tak menyadari itu
hanya sibuk melepaskan dasi suaminya, kemudian Frans menghentikan tangan lembut
istrinya. Ivana kemudian menatap mata suaminya dan tersenyum, lalu berkata:
“Kamu
pasti sudah sangat lapar ‘kan, mas?”.
Frans
sedikit gemas mendengarnya.
“Ya
sudah kalau gitu kita makan aja sekarang”. Ivana membalikkan badan
dan menaruh jas Frans di atas tempat tidur.
Frans
memeluknya dari arah belakang, menyandarkan kepalanya di kepala istrinya. Ivana
hanya terdiam.
“Kenapa
kamu selalu seperti ini?,,” tanya Frans pasrah.
“Kenapa
kamu selalu mengabaikan perasaanmu dan baik padaku?” tanya Frans dengan suara
setengah berbisik.
“Ada
apa, mas?” tanya Ivana memastikan.
“Kenapa
kamu selalu berpura-pura seakan kamu sedang baik-baik saja?”
Ivana
terdiam. Tampak kedua sudut matanya sedikit basah. Frans memeluknya sangat
lama. Seperti banyak yang ingin ia sampaikan, namun entah yang keluar hanya:
“Maafkan
aku”
Ivana
masih terdiam.
“Kamu pasti sudah tahu kalau sebenarnya hari
ini aku ngga ada meeting ‘kan?”
“He’em”
“Apakah
kamu tahu kalau tadi siang aku ke stasiun?”
“He’em”
“Apa
kamu tahu untuk apa aku kesana?”
“He’em”
“Apa...”
tanya Frans agak ragu, kemudian dilanjutnya: “Apa kamu juga tahu siapa yang
tadi aku temui di sana?”
“Hmmm”
jawab Ivana setengah mengangguk, “Aku tahu. Semuanya.” Lanjut Ivana pelan,
menahan tangisnya. Membayangkan kejadian siang tadi, ketika lisan milik
suaminya itu berakhir menuai luka di hatinya.
Frans
mengeratkan pelukannya, sambil menutup mata ia tampak sesekali mencium rambut
istrinya.
“Lalu
kenapa kamu tidak marah ataupun bertanya sesuatu? Apa kamu tidak mengerti, memberiku
hukuman dengan sikapmu seperti ini justu membuatku semakin sakit” kata Frans
masih dengan memeluknya
“Aku
juga ingin sekali marah, mas. Aku juga menyimpan banyak pertanyaan. Tapi
lagi-lagi ego ku selalu kalah. Aku sadar bahwa dengan aku marah tidak akan bisa
membawamu berjalan mundur, aku sadar bahwa pertanyaan bodohku hanya akan memperburuk
keadaan” jawab Ivana dengan tatapan kosongnya.
“Kamu
tahu ‘kan, apa yang paling ampuh membunuhku?” tanya Ivana lagi, “Adalah
dihianati orang yang sangat aku percaya. Itu adalah kelemahanku. Aku
memberitahumu karena kamu bukan lawanku, melainkan aku mengharap rasa kasihanmu
agar jangan sampai melakukannya padaku”. pungkasnya dengan suara hampir tak
terdengar karena menahan isaknya.
Ivana
mengerti, mungkin itu hanya salah paham. Tapi entah mengapa masih ada yang
menganga jauh di dalam sana. Mungkin begitulah hati perempuan. Seperti sutera
yang tergores kuku tak rata, cacat. Meski tak peduli sekecil apapun itu.
“Saat
dengan sadar Aku menjabat tangan ayahmu, kau tau apa artinya itu?” Tanya Frans
masih dengan merangkulnya. “Aku telah memilih untuk hanya mencintaimu di
sepanjang sisa umurku, Aku hanya ingin tumbuh tua bersamamu, Ivana” Frans
mencoba menjelaskan, Ivana menitikkan air mata haru.
“Jauh
dari semua itu, terkadang Aku hanya takut Kau tidak benar-benar mencintaiku,
mas. Aku takut jika ternyata selama ini Aku hanya mencintaimu sendirian. Aku
mohon, sebisa mungkin jangan pernah mengunjungi ruang masa lalumu lagi. Karena
saat Kau melakukannya, Aku takut Kau nyaman dan ingin tinggal di sana” Jawab Ivana.
“Apa
Kau akan memaafkanku dengan semudah ini?”
“Karena cintaku terlalu banyak, berlapis-lapis dan tak pernah habis, maka Aku memilih untuk memaafkanmu” pungkas perempuan berperawakan tinggi jenjang itu.
*******
Tulisan ini Aku persembahkan untuk seseorang yang hidup dalam dongengku, kamu.
wkwk, mbk ifa, bagus mbk ,,
BalasHapusHehe.. makasih nggis. Ah jadi malu
HapusMantaaaaaabs...
BalasHapus