Kamis, 12 Maret 2015

Sepenggal Cerita Tentang Maret

Malam semakin redup dengan hening yang begitu mencekik. Masih seperti biasa, pun dengan kegiatan yang selama ini dilakoninya. Dengan jari lentiknya yang begitu piawai menorehkan tinta di atas lembaran-lembaran putih. Begitulah perempuan itu mengadu, bercerita pada setiap kata yang ia tuliskan. Bercerita tentang Maret. Ya, tentang Maret. Di bulan Maret itulah ia dipertemukan oleh takdirnya dengan seorang Dimas. Lelaki yang menurutnya sopan, pintar, cakap bergaul, dan mahir dalam berorganisasi. Di bulan Maret itu juga ia akhirnya menaiki tangga sweet seventeennya melalui pertemuan singkat dalam acara tahunan di sekolah tempat ia menimba ilmu, lebih tepatnya dalam acara “Gebyar Muharram”.
Dengan tanpa disengaja, kedua hati diantara mereka saling terpaut. Nampaknya bibit cinta tengah membenih di bulan Maret, tumbuh dan berbunga dengan mahkota elok nan sempurna. Terasa amat manis kala itu, sebelum Maret berakhir, sebelum bunga tersebut layu kemudian mengering karena terlalu lama dibiarkan.
“Ah, untuk apa diingat kembali? Semuanya hanyalah sebatas penggalan cerita tentang Maret, yang tak ada bedanya dengan bulan-bulan lain”. Perempuan itu membubarkan lamunannya. Sekadar menghibur diri atau mencoba meyakini bahwa Maret telah berlalu? Entahlah, yang pasti ia tengah menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan nanar dibalik mata sipitnya yang sembab. Kini, ia kembali menengadahkan wajah. Menahan air matanya agar tidak tumpah. Menyakitkan memang, seperti duri dalam daging. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja cinta menghilang. Menjadi begitu dingin, acuh, seakan tak peduli tanpa megapa dan karena apa?. Sementara kabar burung ia tengah bersama dengan perempuan lain.
Lama sudah ia membeku, tanpa hangatnya sebuah sapaan. Hidupnya yang ada kini hanya abu-abu, begitu hambar ibarat sayur tanpa garam. Bahkan kini ia tengah lupa cara mengeja tawa, lupa bagaimana berharap, juga lupa bagaimana menggenggam jemari.
Lagi-lagi ia harus menutup matanya rapat-rapat.  Agar tak ada setetespun air matanya yang menitik. Meski ia harus kembali malu, ketika tersadar rupanya ada yang mengintai dibalik cermin. Ya, benda mati itu telah berhasil merekam nada isaknya, sempat juga memergoki sebutir bening tengah menggantung di sudut matanya. Menggelayut lembut dan berakhir pecah diusapan ujung jari.
Sejenak hening kembali, perempuan itu semakin tampak tenggelam dalam rasa sesal sekaligus kecewa. Meski sesekali menghirup segarnya rindu. Rindu tentang Maret yag dulu, sebelum berakhir dan berganti April. Rindu sebuah tempat yang menurutnya sederhana namun istimewa. Sebuah tempat bertuliskan “Warung Bakso Pak Pardjo”.
“Livia, aku punya pertanyaan untukmu?”
“Tanyakan saja, kekasihku!”
“ Sebenarnya apa alasanmu memilihku?”
“Haruskah aku menjawabnya?” remaja lelaki itu pun mengangguk.
“Sekalipun aku menjawabnya, aku yakin kamu tak akan percaya. Rasanya semua alasan itu akan sulit untuk diterima oleh nalar. Ketahuilah Dimas, dalam percitaan logika selalu kalah melawan perasaan”. Begitu kata perempuan itu dengan bijaknya.
“Iya, aku tahu. Tapi apa?”
“Aku jatuh hati pada tahi lalatmu. Lucu dan menggemaskan” jawabnya dengan senyuman manja.
“Hmmmm, rupanya kau pintar menggoda juga..” jawab Dimas sembari mencubit lembut lengan perempuan itu.
Begitulah Maret yang selalu ia rindukan. Ada pula cerita tentang sebuah tempat, begitu damai nan tenang. Di mana hanya ada mereka berdua di sana, dengan sehampar rumput ilalang menari-nari bahagia. Di saat semilir angin meniup lembut membelai mesra rambutnya hingga tergerai, Dimas bilang;
“Ahh, angin itu membuatku cemburu saja”
Livia hanya tersipu.
Maret memang manis, begitu syahdu dengan segala kemesraan. Lalu bagaimana dengan April? Teranglah sudah, kemarin tak akan pernah sama dengan hari ini. Sampai kapanpun itu.
Dulu setiap detik Dimas selalu ingin tahu tentangnya, bahkan hal paling sepele sekalipun. “sudah makan, belum?”, “sedang apa, sayang..?” atau kalimat-kalimat lain yang senada.
Tapi, kini perempuan berperawakan tinggi janjang itu harus terbujur kaku tanpa senyap, menanti angin berbisik membawa kabar tentang kekasihnya.
Lama ia menatap ponsel di sudut meja kamarnya lumpuh tak bergerak, tak menada pun bergetar. Mungkin saja sinyal tengah bosan menjadi penghubung di antara mereka, atau.. entahlah.
Untuk ke sekian kalinya ia kembali mengirim pesan pendek  kepada Dimas. Namun, hasilnya nihil. Tak satupun pesannya yang terbalas. Berkali-kali melakukan panggilan, tetapi hanya “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab” yang terdengar dari seberang sana.
Sebenarnya sebab apa kiranya Dimas menjauh. Livia tak pernah tahu tentang itu. Ia memang perempuan yang tak begitu pandai menerjemahkan isyarat. Begitupun menurut pandangan orang-orang, ia dinilai sebagai gadis polos yang lugu dan senantiasa berhati-hati dalam menjaga kata.
Keesokan hari ia mendapati seuntai pesan menyapa layar ponsel yang selama ini begitu pendiam. Kata demi kata diejanya dengan cermat.
“Aku ingin bertemu denganmu sekarang, kutunggu di tempat biasa.”
Seketika wajahya merona, tampak kebahagiaan tengah membuncah seperti pelangi di mata yang semula memudar.
Segera ia menapakkan langkah degan sejuta asa, menyambut kembali cinta yang sempat merajuk.
“Aku merindukanmu Dimas..” begitu sapanya lirih sembari memeluk lelaki berbadan tegap itu dari arah belakang. Perempuan itu degan amat indahnya melepas keriduan yang selama ini ia pikul sendiri.
“Maafkan aku Livia, aku rasa cukup di sini saja” Dimas melepaskan pelukan itu.
“Tapi kenapa Dim? Beri aku satu alasanmu melepasku!”
“Aku hanya merasa kamu terlalu baik untukku”
“Itu bukan alasan, Dim!”
“Kau pernah bilang sendiri, dalam cinta  logika tidak akan pernah mampu mencerna segala macam bentuk alasan” Begitu penjelasan  Dimas panjang lebar.
Sejenak bisu tanpa nada, perempuan itu hanya menengadah ke atas, membendung kuat agar air matanya tak melinang. Sedang lelaki seusia dua puluh satuan itu kembali menggerakkan lidahnya.
“Apa kau baik-baik saja, Livia?”
“Memang seharusnya aku kenapa, Dim?”
Lelaki itu hanya menggeleng.
“Aku tidak serapuh itu” Jawab Livia singkat.
Cukup lama mereka berselimut diam, tampak ada sesuatu yang saling ingin diungkap. Tapi waktu tak pernah rela menuggu. Dan kini, Dimas benar-benar berlalu.
“Terima kasih Dimas, sudah sempat singgah di palung hatiku”. Perempuan itu memang tampak tegar dari kejauhan, meski batinnya entah seperti apa. Seharusnya memang tak ada yang perlu disesali. Beginilah hidup, perjalanannya seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Dan apapun yang terjadi, Livia harus ikhlas akan itu.


2 komentar: