Citra dapat dikatakan sebagai citra digital jika citra tersebut disimpan dalam format digital (dalam bentuk file). Hanya citra digital yang dapat diolah menggunakan komputer. Jenis citra lain jika akan diolah dengan komputer harus diubah dulu menjadi citra digital (Ardhianto dkk., 2013). Citra digital merupakan sebuah larik (array) yang berisi nilai-nilai real maupun komplek yang direpresentasikan dengan deretan bit tertentu (Gonzales dan Woods, 2009).
Citra digital pada dasarnya merupakan representasi dari
fungsi gelombang cahaya dalam bentuk diskrit pada bidang dua dimensi. Citra
digital dapat mewakili sebuah matriks yang terdiri dari M kolom dan N baris,
perpotongan antara kolom dan baris disebut pixel
(picture element), yaitu elemen terkecil dari sebuah citra (Ardhianto dkk.,
2013). Kumpulan pixel-pixel tersebut akan menentukan dimensi
atau resolusi dari sebuah citra (Febrinata dkk., 2013). Pixel mempunyai dua parameter, yaitu koordinat (x,y) yang menunjukkan posisi pixel
dalam suatu citra dan amplitudo f(x,y)
yang menunjukkan intensitas atau warna citra. Nilai yang terdapat pada
koordinat (x,y) adalah f(x,y), yaitu besar intensitas atau
warna dari pixel di titik tersebut (Ardhianto
dkk., 2013).
Sedangkan bentuk matriks dalam
koordinat spasial pada citra digital dapat ditunjukkan pada persamaan (2.1)
berikut (Gonzales dan Woods, 2009);
Suatu citra tersusun oleh sekumpulan pixel (picture
element) yang memiliki koordinat (x,y) dan amplutido f(x,y).
Setiap koordinat (x,y) seperti pada persamaan (2.1) menunjukkan letak
atau posisi pixel dalam citra
tersebut, sedangkan amplitudo f(x,y) menunjukkan nilai intensitas warna
suatu citra (Gonzales dan Woods, 2009).
Berdasarkan kombinasi warna pixel-nya, sistem warna pada citra digital terbagi menjadi tiga
jenis, yaitu citra RGB , citra
keabuan, dan citra biner (Putra, 2010). Citra RGB merupakan citra yang memiliki
kedalaman bit sebesar 24 bit dan tersusun atas tiga kanal warna, yaitu kanal
merah (red), hijau (green), dan biru (blue). Masing-masing kanal memiliki nilai intensitas pixel dengan kedalaman bit sebesar 8 bit, yang artinya memiliki
variasi warna 28 derajat warna (0 s.d 255). Pada kanal merah, warna
merah sempurna akan direpresentasikan dengan nilai 255 dan hitam sempurna
dengan nilai 0. Begitu juga pada kanal hijau dan biru. Artinya, apabila suatu pixel pada citra RGB berwarna merah sempurna, maka komposisi warna pada pixel-nya adalah kanal merah sebesar
255, kanal hijau dan kanal biru sebesar 0. Banyaknya kombinasi warna pixel yang mungkin pada citra RGB adalah sebanyak 256 x 256 x 256 =
16.777.216 (Nafi’iyah, 2015). Representasi pixel
dengan komposi warna merah, hijau, dan biru dapat ditunjukkan pada Gambar 2.1,
|
|
Gambar 2.1 Contoh citra RGB dan
nilai intensitasnya (Mcandrew, 2004), (a) Contoh citra RGB, (b) Nilai
intensitas kanal merah, (c) Nilai intensitas kanal hijau, (d) Nilai intensitas
kanal biru
Citra Grayscale
adalah citra yang nilai pixel-nya
didasarkan pada derajat keabuan. Citra Grayscale
memiliki kedalaman bit sebesar 8 bit, sehingga derajat warna hitam sampai
dengan putih dibagi ke dalam 256 derajat keabuan, yaitu dari 0 sampai dengan 255 (Nafi’iyah, 2015).
Warna putih sempurna direpresentasikan dengan nilai 256 dan hitam sempurna direpresentasikan
dengan nilai 0. Untuk mengkonversi/mengubah citra RGB menjadi citra grayscale dapat dilakukan dengan
menggunakan persamaan (2.2) berikut (Ballabeni dan Gaiani, 2016),
dengan
I adalah nilai intensitas warna citra
output pada pixel (x,y), R adalah
nilai intensitas warna pada kanal merah, G
adalah nilai intensitas warna pada kanal hijau,dan B adalah nilai
intensitas warna pada kanal biru. Dimana
persamaan (2.2) merupakan kombinasi paling ideal untuk memperoleh citra grayscale dari citra RGB. Gambar 2.2 menunjukkan contoh suatu citra grayscale beserta representasi nilai intenitas pada setiap pixel-nya.
Gambar 2.2 Contoh citra grayscale dan
nilai intesitasnya (Mcandrew, 2004)
Citra biner (black
and white) adalah citra yang pixel-nya
memiliki kedalaman bit sebesar 1 bit, sehingga citra biner hanya memiliki dua
kemungkinan nilai pixel, yaitu
bernilai 0 yang menunjukkan pixel berwarna
hitam, dan bernilai 1 yang menunjukkan pixel
berwarna putih (Mcandrew, 2004). Citra grayscale
dapat dikonversi menjadi citra biner melalui proses thresholding. Dalam proses thresholding,
dibutuhkan suatu nilai threhold
sebagai nilai pembatas konversi. Nilai intensitas pixel yang lebih besar atau sama dengan nilai threhold akan dikonversi menjadi 1, dan nilai inttensitas pixel yang kurang dari nilai threhold akan dikonversi menjadi 0. Nilai
intensitas warna pada citra grayscale
yang dikonversikan menjadi citra biner dengan nilai threshold didefinisikan sebagai;
dengan g(x,y) adalah nilai intensitas warna
pada pixel (x,y) untuk citra output
hasil proses binerisasi, f(x,y) adalah
nilai intensitas warna pada pixel (x,y), dan
T adalah nilai threshold atau batas ambang konversi. Gambar 2.4 merupakan contoh
suatu citra biner beserta representasi nilai intensitas pada pixel-nya.
Gambar 2.3 Contoh citra biner
dan nilai intensitasnya (Mcandrew, 2004)
Sumber :
Mardliyah, I., 2018, Sistem Penghitungan dan Pengklasifikasian Jenis Kendaraan Berbasis Metode Kernel Density Estimation dan K-Means Clustering, Skripsi, Jurusan Fisika, Undip, Semarang.




