Malam
semakin redup dengan hening yang begitu mencekik. Masih seperti biasa, pun
dengan kegiatan yang selama ini dilakoninya. Dengan jari lentiknya yang begitu
piawai menorehkan tinta di atas lembaran-lembaran putih. Begitulah perempuan
itu mengadu, bercerita pada setiap kata yang ia tuliskan. Bercerita tentang
Maret. Ya, tentang Maret. Di bulan Maret itulah ia dipertemukan oleh takdirnya
dengan seorang Dimas. Lelaki yang menurutnya sopan, pintar, cakap bergaul, dan
mahir dalam berorganisasi. Di bulan Maret itu juga ia akhirnya menaiki tangga sweet seventeennya melalui pertemuan
singkat dalam acara tahunan di sekolah tempat ia menimba ilmu, lebih tepatnya
dalam acara “Gebyar Muharram”.
Dengan
tanpa disengaja, kedua hati diantara mereka saling terpaut. Nampaknya bibit
cinta tengah membenih di bulan Maret, tumbuh dan berbunga dengan mahkota elok
nan sempurna. Terasa amat manis kala itu, sebelum Maret berakhir, sebelum bunga
tersebut layu kemudian mengering karena terlalu lama dibiarkan.
“Ah,
untuk apa diingat kembali? Semuanya hanyalah sebatas penggalan cerita tentang
Maret, yang tak ada bedanya dengan bulan-bulan lain”. Perempuan itu membubarkan
lamunannya. Sekadar menghibur diri atau mencoba meyakini bahwa Maret telah berlalu?
Entahlah, yang pasti ia tengah menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan nanar
dibalik mata sipitnya yang sembab. Kini, ia kembali menengadahkan wajah.
Menahan air matanya agar tidak tumpah. Menyakitkan memang, seperti duri dalam
daging. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja cinta menghilang. Menjadi
begitu dingin, acuh, seakan tak peduli tanpa megapa dan karena apa?. Sementara
kabar burung ia tengah bersama dengan perempuan lain.
Lama
sudah ia membeku, tanpa hangatnya sebuah sapaan. Hidupnya yang ada kini hanya
abu-abu, begitu hambar ibarat sayur tanpa garam. Bahkan kini ia tengah lupa
cara mengeja tawa, lupa bagaimana berharap, juga lupa bagaimana menggenggam
jemari.
Lagi-lagi
ia harus menutup matanya rapat-rapat.
Agar tak ada setetespun air matanya yang menitik. Meski ia harus kembali
malu, ketika tersadar rupanya ada yang mengintai dibalik cermin. Ya, benda mati
itu telah berhasil merekam nada isaknya, sempat juga memergoki sebutir bening
tengah menggantung di sudut matanya. Menggelayut lembut dan berakhir pecah
diusapan ujung jari.
Sejenak
hening kembali, perempuan itu semakin tampak tenggelam dalam rasa sesal
sekaligus kecewa. Meski sesekali menghirup segarnya rindu. Rindu tentang Maret
yag dulu, sebelum berakhir dan berganti April. Rindu sebuah tempat yang
menurutnya sederhana namun istimewa. Sebuah tempat bertuliskan “Warung Bakso
Pak Pardjo”.
“Livia,
aku punya pertanyaan untukmu?”
“Tanyakan
saja, kekasihku!”
“
Sebenarnya apa alasanmu memilihku?”
“Haruskah
aku menjawabnya?” remaja lelaki itu pun mengangguk.
“Sekalipun
aku menjawabnya, aku yakin kamu tak akan percaya. Rasanya semua alasan itu akan
sulit untuk diterima oleh nalar. Ketahuilah Dimas, dalam percitaan logika
selalu kalah melawan perasaan”. Begitu kata perempuan itu dengan bijaknya.
“Iya,
aku tahu. Tapi apa?”
“Aku
jatuh hati pada tahi lalatmu. Lucu dan menggemaskan” jawabnya dengan senyuman
manja.
“Hmmmm,
rupanya kau pintar menggoda juga..” jawab Dimas sembari mencubit lembut lengan
perempuan itu.
Begitulah
Maret yang selalu ia rindukan. Ada pula cerita tentang sebuah tempat, begitu
damai nan tenang. Di mana hanya ada mereka berdua di sana, dengan sehampar
rumput ilalang menari-nari bahagia. Di saat semilir angin meniup lembut
membelai mesra rambutnya hingga tergerai, Dimas bilang;
“Ahh,
angin itu membuatku cemburu saja”
Livia
hanya tersipu.
Maret
memang manis, begitu syahdu dengan segala kemesraan. Lalu bagaimana dengan
April? Teranglah sudah, kemarin tak akan pernah sama dengan hari ini. Sampai
kapanpun itu.
Dulu
setiap detik Dimas selalu ingin tahu tentangnya, bahkan hal paling sepele
sekalipun. “sudah makan, belum?”, “sedang apa, sayang..?” atau kalimat-kalimat
lain yang senada.
Tapi,
kini perempuan berperawakan tinggi janjang
itu harus terbujur kaku tanpa senyap, menanti angin berbisik membawa kabar
tentang kekasihnya.
Lama
ia menatap ponsel di sudut meja kamarnya lumpuh tak bergerak, tak menada pun
bergetar. Mungkin saja sinyal tengah bosan menjadi penghubung di antara mereka,
atau.. entahlah.
Untuk
ke sekian kalinya ia kembali mengirim pesan pendek kepada Dimas. Namun, hasilnya nihil. Tak
satupun pesannya yang terbalas. Berkali-kali melakukan panggilan, tetapi hanya
“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab” yang terdengar dari seberang sana.
Sebenarnya
sebab apa kiranya Dimas menjauh. Livia tak pernah tahu tentang itu. Ia memang
perempuan yang tak begitu pandai menerjemahkan isyarat. Begitupun menurut
pandangan orang-orang, ia dinilai sebagai gadis polos yang lugu dan senantiasa
berhati-hati dalam menjaga kata.
Keesokan
hari ia mendapati seuntai pesan menyapa layar ponsel yang selama ini begitu
pendiam. Kata demi kata diejanya dengan cermat.
“Aku
ingin bertemu denganmu sekarang, kutunggu di tempat biasa.”
Seketika
wajahya merona, tampak kebahagiaan tengah membuncah seperti pelangi di mata
yang semula memudar.
Segera
ia menapakkan langkah degan sejuta asa, menyambut kembali cinta yang sempat
merajuk.
“Aku
merindukanmu Dimas..” begitu sapanya lirih sembari memeluk lelaki berbadan
tegap itu dari arah belakang. Perempuan itu degan amat indahnya melepas
keriduan yang selama ini ia pikul sendiri.
“Maafkan
aku Livia, aku rasa cukup di sini saja” Dimas melepaskan pelukan itu.
“Tapi
kenapa Dim? Beri aku satu alasanmu melepasku!”
“Aku
hanya merasa kamu terlalu baik untukku”
“Itu
bukan alasan, Dim!”
“Kau
pernah bilang sendiri, dalam cinta
logika tidak akan pernah mampu mencerna segala macam bentuk alasan”
Begitu penjelasan Dimas panjang lebar.
Sejenak
bisu tanpa nada, perempuan itu hanya menengadah ke atas, membendung kuat agar
air matanya tak melinang. Sedang lelaki seusia dua puluh satuan itu kembali
menggerakkan lidahnya.
“Apa
kau baik-baik saja, Livia?”
“Memang
seharusnya aku kenapa, Dim?”
Lelaki
itu hanya menggeleng.
“Aku
tidak serapuh itu” Jawab Livia singkat.
Cukup
lama mereka berselimut diam, tampak ada sesuatu yang saling ingin diungkap.
Tapi waktu tak pernah rela menuggu. Dan kini, Dimas benar-benar berlalu.
“Terima
kasih Dimas, sudah sempat singgah di palung hatiku”. Perempuan itu memang
tampak tegar dari kejauhan, meski batinnya entah seperti apa. Seharusnya memang
tak ada yang perlu disesali. Beginilah hidup, perjalanannya seperti sungai yang
mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang sulit ditebak kedalamannya, yang
rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu
dengan laut. Dan apapun yang terjadi, Livia harus ikhlas akan itu.
Good job
BalasHapusthanks brother.. :)
Hapus