Rabu, 29 September 2021

Dialog Senja


 (Foto: AP Photo/Julio Cortez)


Di bawah langit lembayung di bukit cermai, dia bertanya padaku, 

"Menurutmu, mengapa kita harus makan? "


Aku meliriknya sekilas setelah mendengar pertanyaan recehnya. Kulihat ia terduduk memeluk lutut. Tatapannya menerawang ke depan menunggu jawaban. Lalu kutimpal sekenaku, 

"Karena lapar"


"Apa hanya karena itu?" Tanyanya seolah tak puas dengan jawaban yang kuberi. 

Aku mengangguk yakin sambil merasai merah jingga nirmala, tanpa menoleh ke arahnya. 


"Meski makanan itu bukan makanan kesukaanmu? Ia merudungku lagi, kini pandangannya ia lepas dan melemparkannya padaku. 


"Kalau kita lapar, ya harus makan. Masalah enak atau tidak, masalah suka atau tidak, itu tak ada kaitannya secara langsung. Beruntung saja saat kau lapar kau mendapat makanan yang kau sukai" Jawabku dengan geming. 


"Lalu kau tak bahagia?" Cecarnya lagi. 


"Saat aku kelaparan di tengah malam lalu menemukan makanan di dapur, aku bahagia. Meski aku tak begitu menyukainya" Jawabku jengah. 


Ia hanya diam, sembari membawa pandangannya lagi ke arah pandangku, menatap sebentang aram temaram. 


 

1 komentar: